TUGAS REKGEN jurnal tanaman transgenik


Analisis Molekuler Gen Partenokarpi DefH9-RI-iaaM pada Progeni Tomat Transgenik

(Molecular Anaysis of DefH9-RI-iaaM Parthenocarpic Gene in Transgenic Tomato Progenies)



Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu:

1.      Analisis Molekuler, Uji Ekspresi, dan Uji Fenotipik Gen DefH9-RI-iaaM pada                 Galur Tomat Transgenik T1

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil daun muda tanaman untuk analisis molekuler. Dari tiap galur tomat transgenik T1 di-sampling sebanyak 10 tanaman untuk analisis molekuler.

2.      Analisis molekuler gen DefH9-RI-iaaM pada galur T1

Analisis molekuler dilakukan dengan teknik PCR menggunakan metode Wang et al. (2008). Teknik ini dilakukan dengan tujuan mendeteksi keberadaan gen DefH9-R1-iaaM pada sampel tiga galur tomat transgenik

Ekstraksi DNA dilakukan berdasarkan protokol Extract-N-AmpTM Plant PCR Kit (Invitrogen™) yang terdiri atas extraction solution dan dilution solution.

Sampel daun dipotong dengan menggunakan paper punch berdiameter 0,5 cm, lalu dimasukkan ke dalam tabung mikro 1,5 ml yang berisi 100 µl extraction solution, kemudian diinkubasi di dalam waterbath incubator dengan suhu 95°C selama 10 menit. Selanjutnya, sampel diinkubasi pada suhu ruang hingga dingin, kemudian ditambah dengan 100 µl dilution solution. Sampel DNA yang diperoleh selanjutnya diambil sedikit untuk proses PCR dan sisanya disimpan di dalam freezer -20°C sebagai cadangan.

Sampel DNA selanjutnya diamplifikasi menggunakan mesin Peltier Thermal Cycler PTC-100TM (MJ Research). Reaksi PCR terdiri atas 4 µl DNA genom sebagai cetakan (template), 10 µl RED Extract-N-AmpTM PCR Reaction Mix, 0,4 µl primer IAAM 5, 0,4 µl IAAM 3, dan ditambah akuades steril sampai dengan volume 20 µl. Template yang digunakan dalam reaksi PCR adalah DNA genom yang diisolasi dari daun tanaman tomat transgenik, varietas Oval dan CL 6046 nontransgenik (kontrol negatif), serta DNA plasmid A. tumefaciens yang memiliki insersi gen partenokarpi DefH9-iaaM (kontrol positif). Kondisi optimal reaksi PCR, yaitu tahap denaturasi awal 95°C selama 5 menit, dilanjutkan dengan denaturasi pada suhu 95°C selama 15 detik, proses annealing pada suhu 60°C selama 30 detik, serta polimerisasi pada suhu 72°C selama 1 menit. Proses denaturasi, annealing, dan polimerisasi tersebut dilakukan secara berulang sebanyak 40 siklus. Tahap akhir amplifikasi diperpanjang dengan inkubasi pada suhu 15°C selama 60 menit, kemudian dilanjutkan pada suhu 4°C selama 15 menit.

Fragmen DNA hasil amplifikasi kemudian dielektroforesis menggunakan gel agarosa 1%. Setiap sampel DNA, kontrol positif, kontrol negatif, dan marka DNA ladder 1 kb ditambah 2 µl loading dye 10× dan dimasukkan ke dalam sumur gel agarosa, lalu elektroforesis dijalankan dengan tegangan listrik tetap 80 V selama 60 menit hingga migrasi loading buffer sejauh 70% dari panjang gel. Gel agarosa kemudian divisualisasikan dengan mesin ChemiDoc™ (Bio-Rad) yang memiliki program QuantityOne®.

Hasil positif amplifikasi DNA menghasilkan pita berukuran 158 bp.

3.      Uji ekspresi gen DefH9-RI-iaaM pada galur T1

Untuk uji ekspresi DefH9-RI-iaaM, dari setiap galur tomat hanya dipilih satu tanaman tomat T1 yang positif membawa gen tersebut. Uji ekspresi menggunakan teknik real-time PCR dengan sampel berupa mRNA yang diisolasi dari kuncup bunga tomat sekitar 200 mg (2–3 kuncup bunga). Hal ini dilakukan karena gen DefH9-RI-iaaM oleh promotor DefH9 hanya diekspresikan pada bagian ovulum dan plasenta bunga.

Tahapan uji ekspresi gen DefH9-RI-iaaM meliputi isolasi mRNA, sintesis cDNA, real-time PCR, dan analisis data.

Tahapan isolasi mRNA dimulai dengan memasukkan sampel kuncup bunga dari setiap galur tomat ke dalam larutan nitrogen cair untuk menghentikan proses metabolisme sel. Isolasi mRNA tomat dilakukan menggunakan protokol dari Dynabeads® mRNA DIRECT™ Micro Kit. Selanjutnya, mRNA yang diperoleh dijadikan template untuk sintesis cDNA.

Sintesis cDNA dilakukan dengan metode one step menggunakan SYBR® Green Reaction Kit (Invitrogen™) dengan primer spesifik untuk gen DefH9-RI-iaaM, yaitu primer IAAM 5 dan IAAM 3. Proses sintesis cDNA berlangsung secara otomatis di dalam mesin real-time PCR. Mesin di program untuk sintesis cDNA sebagai berikut. Tahap aktivasi dengan suhu 50°C selama 3 menit, denaturasi pada suhu 95°C selama 5 menit, amplifikasi sebanyak 40 siklus pada suhu 95°C selama 15 detik, kemudian 60°C selama 30 detik, dan tahap akhir amplifikasi pada suhu 40°C selama 1 menit.

Ekspresi gen DefH9-RI-iaaM dapat dianalisis berdasarkan saat munculnya sinyal amplikon pada grafik hasil real-time PCR.

4.      Uji fenotipik partenokarpi pada galur T

Uji fenotipik dimaksudkan untuk mengetahui ekspresi DefH9-RI-iaaM secara fenotipik dengan mengamati karakter partenokarpi pada galur tomat transgenik T1. Lima tanaman terbaik sebagai ulangan dipilih untuk setiap galur sebagai bahan pengujian fenotipik. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (Randomized Complete Block Design/RCBD). Sebagai kontrol digunakan varietas Oval (nontransgenik). Pengamatan dan pengambilan data dilakukan setiap minggu dengan peubah jumlah bunga per tanaman, jumlah buah per tanaman, sedangkan jumlah biji dan berat buah segar diambil setiap panen (lima kali panen). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis ragam ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%.

5.      Analisis Molekuler Gen DefH9-RI-iaaM pada  Galur Tomat Transgenik T2

Prosedur analisis galur tomat transgenik T2 sama dengan analisis galur T1. Sebanyak 10 tanaman per galur generasi T2 dipilih untuk analisis molekuler. Pengambilan sampel daun dilakukan pada saat tanaman berumur 4–5 minggu setelah tanam. Foto visualisasi sampel DNA hasil elektroforesis gel diamati dan dianalisis berdasarkan ada tidaknya pita DNA berukuran 158 bp.

6.      Analisis Molekuler Gen DefH9-RI-iaaM pada Galur Tomat Transgenik T3

Prosedur analisis galur tomat transgenik T3 sama dengan analisis galur T1 dan T2. Sebanyak 10 tanaman per galur generasi T3 dipilih untuk analisis molekuler. Pengambilan sampel daun dilakukan pada saat tanaman berumur 4–5 minggu setelah tanam. Foto visualisasi sampel DNA hasil elektroforesis gel diamati dan dianalisis berdasarkan ada tidaknya pita DNA berukuran 158 bp
http://biogen.litbang.pertanian.go.id/terbitan/pdf/Jurnal%20Agrobiogen%2011-1/Saptowo%20J%20Pardal.pdf


cr: Nanda dwi martina dan Siti apriliyanti k. (bio b)

Komentar